Sepatu Bally dan Integritas Mohammad Hatta yang Tak Lekang Zaman
Dalam amanat apel di Depok, Senin (24/8), Kepala Pusat Strategi Evaluasi dan Publikasi Kebijakan Hukum BSK Hukum, Ika Ahyani Kurniawati, mengajak jajaran Kementerian Hukum meneladani kesederhanaan dan integritas Mohammad Hatta melalui kisah sepatu Bally yang tak pernah terbeli hingga akhir hayatnya. Menurut Ika, kompetensi dapat dipelajari dan dilatih, tetapi kejujuran harus terus dijaga. Nilai kesederhanaan, integritas, dan kejujuran dinilai menjadi fondasi penting bagi aparatur negara dalam memberikan pelayanan publik yang bertanggung jawab dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Depok — Semangat kemerdekaan menjadi momentum bagi jajaran Kementerian Hukum untuk memperkuat integritas, kesederhanaan, dan kejujuran dalam menjalankan tugas sebagai aparatur negara. Pesan tersebut disampaikan Kepala Pusat Strategi Evaluasi dan Publikasi Kebijakan Hukum pada Badan Strategi Kebijakan (BSK) Hukum Kementerian Hukum, Ika Ahyani Kurniawati, dalam amanat pembina apel yang diikuti jajaran BPSDM Hukum, BSK Hukum, dan Politeknik Pengayoman Indonesia (Poltekpin) Senin (24/08).
“Apabila kita tidak pintar, kita bisa belajar. Apabila kita tidak cakap, kita bisa dilatih. Namun, kejujuran itu susah untuk dipertahankan,” ujar Ika.
Dalam amanatnya, Ika mengajak jajaran menjadikan momentum bulan kemerdekaan sebagai kesempatan untuk kembali menguatkan semangat kebersamaan dan meneladani sosok para pendiri bangsa. Salah satu tokoh yang disoroti adalah Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia yang juga dikenal sebagai salah satu penggagas gerakan koperasi.
Ika menceritakan kisah kesederhanaan Mohammad Hatta yang pernah menginginkan sepasang sepatu Bally. Keinginannya tersebut begitu kuat hingga ia menyimpan guntingan iklan sepatu beserta harganya di dalam dompet. Namun, hingga wafat pada 1980, sepatu yang diinginkannya tidak pernah terbeli. Guntingan iklan tersebut tetap tersimpan di dompetnya.
Kisah tersebut menjadi gambaran mengenai kesederhanaan sekaligus integritas seorang negarawan. Menurut Ika, kemampuan dan kecakapan dapat terus dikembangkan melalui proses belajar, tetapi kejujuran harus dijaga sebagai prinsip yang melekat dalam pelaksanaan tugas.
“Kesederhanaan, integritas, dan kejujuran adalah hal yang tidak bisa ditawar,” tegasnya.
Nilai tersebut dinilai penting bagi aparatur negara dalam menjalankan pelayanan publik. Pengetahuan dan kompetensi dapat terus ditingkatkan, tetapi keduanya harus ditopang dengan integritas agar setiap tugas dan kewenangan dijalankan secara bertanggung jawab serta berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Selain mengingatkan pentingnya integritas, Ika juga mengajak seluruh jajaran untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai kondisi, termasuk potensi bencana alam. Kesiapan personal dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari upaya memastikan tugas pelayanan kepada masyarakat tetap dapat berjalan dengan baik.
Pesan tersebut diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh jajaran untuk menjadikan semangat kemerdekaan sebagai energi dalam memperkuat profesionalisme, kebersamaan, dan integritas. Keteladanan Mohammad Hatta menunjukkan bahwa pengabdian kepada negara tidak hanya membutuhkan kecakapan, tetapi juga karakter yang kuat dan kejujuran yang konsisten.
