
Yogyakarta - Hari kedua Workshop Manajemen Konflik yang diselenggarakan BPSDM Hukum menghadirkan sesi yang paling ditunggu peserta. Psikolog Reny Yuniasanti menjelaskan bagaimana kelima strategi ini dapat membantu aparatur mengelola konflik secara tepat di lingkungan kerja, Kamis (20/11) di The 101 Hotel Yogyakarta Tugu.
Reny memulai pemaparan dengan mengingatkan bahwa konflik bersifat tak terelakkan dalam organisasi. Meski sering dianggap negatif, konflik justru dapat menjadi energi positif jika dikelola dengan benar.
“Konflik itu tidak selalu buruk. Yang menentukan hasilnya adalah bagaimana kita merespons,” ujar Reny.
Dalam materi yang disampaikan, Reny mengenalkan lima karakter strategi yang umum digunakan individu ketika berhadapan dengan konflik:
- The Turtle — Menghindar (Avoiding)
Strategi ini dipakai ketika konflik dinilai tidak penting atau situasi emosional terlalu tinggi. Individu menarik diri untuk mencegah eskalasi.
- The Teddy Bear — Akomodasi (Accommodating)
Pendekatan ini mengutamakan harmoni. Individu memilih mengalah demi menjaga hubungan jangka panjang.
- The Fox — Kompromi (Compromising)
Strategi mencari jalan tengah. Kedua pihak sama-sama memberi dan menerima, cocok diterapkan ketika hubungan dan hasil sama pentingnya.
- The Shark — Kompetisi (Forcing)
Dipakai ketika keputusan harus diambil cepat dan tegas. Mengutamakan tujuan daripada hubungan, relevan dalam situasi kritis.
- The Owl — Kolaborasi (Collaborating)
Disebut sebagai win–win strategy, strategi ini memerlukan komunikasi, empati, dan waktu yang cukup. Cocok ketika penyelesaian menyeluruh dan keberlanjutan hubungan menjadi prioritas.
Reny menegaskan bahwa tidak ada satu strategi yang paling benar. “Yang penting adalah kemampuan membaca konteks. Setiap strategi punya manfaat—yang tepat di saat yang tepat,” jelasnya.
Kegiatan ini ditutup oleh Kepala Bagian SDM dan Organisasi, Wahju Prihandono, yang menekankan bahwa keterampilan manajemen konflik merupakan bagian penting dari profesionalitas pegawai.
“Konflik bukan sesuatu yang bisa kita hapus, tetapi sesuatu yang harus kita kelola. Aparatur yang baik adalah mereka yang mampu menjaga tujuan tanpa merusak hubungan,” ujarnya.
Ia berharap peserta dapat menerapkan strategi-strategi tersebut dalam pekerjaan sehari-hari, sehingga konflik dapat berubah menjadi ruang kolaborasi dan inovasi.